Pages

Monday, December 26, 2016

Oh Pondoku


Teringat masa itu ketika aku masih berada di suatu kampung. Banyak orang memanggil tempat itu kampung damai atau dalam bahasa arab yaitu “Darussalam”. Mungkin banyak orang mengira kampung yang dimaksud adalah suatu tempat dengan banyak sekali rumah dan kepala keluarga tinggal di kampung tersebut. Tapi sebenarnya kampung ini hanya tempat tinggal para santri. Dengan kata lain tempat ini adalah sebuah pondok pesantren bernama “Darussalam”.

Darussalam tempatku bernaung dari kecil hingga dewasa. Disana aku melakukan aktivitas seperti biasanya orang di luar. Seperti mandi, mencuci, makan, tapi tidak sekedar itu. Banyak sekali pelajaran yang didapatkan dari beraktivitas tersebut. Kami diajarkan untuk mandiri, tak seperti kebanyakan orang diluar sana yang makan harus disiapkan oleh orangtua, mencuci masih oleh orangtua, disini aku belajar menanggung sendiri hal-hal tersebut. Tapi aku tak mengeluh, karna aku lakukan semua itu bersama teman-teman seperjuangan yang selalu membuatku bersemangat dalam menjalankan semua aktivitas tersebut. Semua itu membuatku semakin dewasa dengan segala keadaan.

Di pondok, aku belajar banyak hal, yang pertama adalah dalam spiritual. Tentu, pondok pesantren mengajarkan bagaimana hidup beragama islam, dimana kami saling mengingatkan dalam melakukan ibadah. Setiap pagi dan petang kami beramai mengerjakan ibadah untuk mengabdi pada allah taala. Belajar saling peduli sesama santri, menghormati kepada yang lebih tua, dan menyayangi kepada yg lebih muda.

Di pesantren, pelajaran yang kami pelajari sangat banyak. Dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu pelajaran umum dan pelajaran pondok. Untuk pelajaran umum, mungkin tidak asing lagi menjurus ke jurusan IPA dan IPS. Ada juga pelajaran pondoknya diantaranya nahwu, shorof, lughoh, balaghoh atau bisa disebut komponen-komponen berbahasa arab. Conversation, grammar, composition, reading atau disebut komponen-komponen berbahasa inggris. Kitab kuning dan akidah juga fiqh kita pelajari sebagai bekal hidup di luar nanti. Itu semua dipelajari karena setiap santri wajib memakai bahasa arab ataupun inggris di setiap aktivitasnya selama mereka ada di pondok pesantren Darussalam.
Selain spiritual, aku belajar organisasi. Di darussalam, ada organisasi yang namanya “Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Darussalam” atau biasa kita singkat menjadi OPPD. Semacam OSIS jika di sekolah pada umumnya. Bedanya, jika di OSIS hanya mengatur beberapa kegiatan ketika di sekolah saja. Di OPPD, kita dituntut untuk bisa mengatur dan mengurus santri-santri kelas bawah untuk bisa mandiri, disiplin, dari bangun pagi hingga tidur kembali full selama 24 jam.

Dalam OPPD ada banyak bagian-bagian yang mempunyai masing-masing tugas yang berbeda. Diantaranya, yang pertama adalah Ketua OPPD atau biasa kita sebut dalam bahasa arab yaitu Rois OPPD. Yang bertanggung jawab umum terhadap seluruh bawahannya. Kemudian ada bagian Sekretaris yang tugasnya catat mencatat kejadian, surat menyurat, dan membuat laporan. Kemudian ada bagian Keamanan dan Ketertiban, yang bertugas untuk menjaga keamanan dan menegakkan disiplin setiap santri. Kemudian ada bagian Bahasa, dimana tugas dari bagian tersebut adalah mengontrol setiap santri agar selalu memakai bahasa yang telah ditentukan yaitu bahas arab dan bahasa inggris. Karna di pandoku tidak boleh ada yang berbahasa indonesia ataupun bahasa daerah. Juga masih banyak bagian yang bertanggung jawab di bidangnya seperti bagian teknisi, bagian informasi, bagian kebersihan, bagian perpusatakaan, bagian penerimaan tamu, bagian kesehatan, bagian olahraga, dan lain-lain.

Dulu aku menjadi bagian keamanan dan ketertiban. Aku dilantik menjadi bagian keamanan ketika aku duduk di bangku kelas dua Madrasah Aliyah semester 2. Dan aku menjabat selama satu tahun hingga kelas tiga semester 1. Tanggung jawab yang besar sangat diperlukan untuk menjadi bagian Keamana dan Ketertiban di pondok Darussalam. Karena, setiap apa yang kami lakukan harus menjadi contoh bagi santri yang lainnya. Juga wibawa yang tinggi harus ditampilkan kepada setiap santri agar mereka mau untuk melakukan apa yang kami arahkan. Tak hanya itu, kami juga menegakkan kedisiplinan. Apabila ada santri yang melanggar tentu kami yang mengarahkan dan kamipun yang menghukumnya. Dan akhirnya kami menjadi bagian yang paling disegani dan ditakuti oleh para santri.

Tantangan yang dihadapi oleh bagian keamanan sangatlah berat. Salah satunya adalah ketika ada santri yang melanggar, kita yang berhak dan harus menghukumnya. Caranya dengan membotaki kepalanya dan di jemur setiap siang hari di lapang basket selama 3 hari berturut-turut untuk memberikan rasa jera terhadap pelanggar, agar tidak mau mencoba untuk mengulang kembali kesalahannya. Selain itu ketika santri meminta izin pulang dengan alasan yang tidak logis. Kami juga yang berhak memberikan atau tidaknya izin untuk pulang. Karena, ketika ia izin pulang dan mendengar kabar ternyata ia tidak sampai ke rumahnya itu pasti kami yang bertanggung jawab. Sehingga kami repot mencarinya hingga sedikit mengganggu aktivitas yang harus kami laksanakan di pondok.

Aku menjabat sampai kelas tiga semester 1 karena setelahnya aku harus siap menghadapi banyak sekali ujian. Pada semester 2 aku dan teman-temanku mulai fokus untuk belajar. Karna akan banyak sekali ujian-ujian yang kami hadapi. Tak seperti sekolah pada umumnya, mungkin hanya ada Ujian Sekolah dan Ujian Nasional saja. Tapi kami masih ada ujian pondoknya seperti ujian tulis atau biasa disebut ujian tahriri. Kemudian ada ujian lisan atau disebut ujian syafahi. Juga kamipun ada ujian mengajar dan biasa disebut amaliatu tadris. Dengan fokus belajar aku yakin bisa melewati semua ujian itu dengan lancar.

Setelah semua ujian selesai mungkin jadi hari yang penuh kesedihan bagi kami. Setelah sekian lama bersama-sama makan bareng, minum bareng, tidur bareng, dan banyak sekali aktivitas yang kami lakukan penuh 24 jam bersama-sama teman seperjuangan, karena waktu perpisahan telah tiba. Saat-saat yang membuat kami akan selalu mengingat masa-masa dimana selalu senang, sedih, tertawa bersama. Karena, mungkin aku tidak akan menemukan lagi suasana seperti itu di luar sana. Dan aku menyadari betapa berharganya pembelajaran yang aku dapatkan di pondok karena semua bermanfaat dan tidak ada satupun yang merugikan ketika aku hidup di luar pondok.

Terimakasih Oh Pondokku…

No comments:

Post a Comment

blog anda :